Banjir Besar yang Terjadi di Jakarta


Banjir Besar yang Terjadi di Jakarta – Pemprov DKI Jakarta akan membangun seawall atau bendungan raksasa atau seawall raksasa di pesisir utara Jakarta. Proyek tersebut bertujuan untuk mengatasi banjir di Jakarta yang terjadi sejak zaman kolonial.

Banjir Besar yang Terjadi di Jakarta

Sumber : megapolitan.okezone.com

riveraengineering – Disisi lain, penurunan muka tanah meningkat drastis di beberapa daerah di Jakarta. Oleh sebab itu, DKI Jakarta mempunyai keyakinan bahwa pembangunan tanggul besar di pesisir utara Jakarta mendesak dan perlu diselesaikan secepatnya.

Bencana banjir terjadi pada awal tahun 2020. Jakarta memang daerah yang tidak pernah lepas dari kata banjir saat musim hujan. Pemprov DKI mengandalkan banyak rencana kerja untuk mengatasi seringnya banjir di Jakarta.

Salah satu rencana banjir yang menjadi andalan Gubernur Jenderal DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama selama pemerintahannya adalah normalisasi atau pelebaran saluran sungai.

Ketika gubernur berubah, terminologi standar juga berubah. Gubernur DKI Jakarta saat ini Anies Baswedan sudah mengubah istilah normalisasi menjadi naturalisasi. Alasannya, Anis tidak mau beton di tepi sungai. Menurutnya hal tersebut dapat merusak ekosistem sungai.

Namun, sejak Pemerintah Hindia Timur Belanda menjabat, Jakarta belum menyadari hal tersebut dan menjadi daerah yang dilanda banjir. Jakarta (saat itu masih disebut Batavia) sering dilanda banjir saat hujan deras. Pemerintah Hindia Belanda tidak membiarkan banjir terjadi. Mereka mencoba mencegah terjadinya banjir dengan membangun sistem kanal.

Dihimpun dari spacestock.com , berikut ini beberapa Banjir yang Terjadi di Jakarta :

1. Banjir pada zaman kolonial pada tahun 1621

Sumber : merdeka.com

Pada masa penjajahan Belanda, Jakarta masih dikenal sebagai Batavia, ketika kota tersebut dilanda banjir pada tahun 1621. Akibat hujan lebat, sebagian besar wilayah negara itu masih rawa-rawa dan hutan lebat. Jangan membayangkan kawasan Jakarta sekarang.

Selain sebagian besar wilayahnya terdiri dari rawa, pelimpah Sungai Chiliwung dan beberapa sungai lainnya membanjiri Jakarta. Saat itu Batavia berada di bawah kepemimpinan Gubernur Jan Pieterzoon Coen.

Solusi yang diajukan pemerintah berupa kanal. Sayangnya, kanal yang dirancang oleh Belanda tidak mampu mengatasi banjir. terbukti karena terjadi berulang kali banjir besar lainnya selama pada masa penjajahan Belanda.

Baca juga : 7 Kasus Pembunuhan Bikin Heboh

2. Banjir pada tahun 1872

Sumber : eventkampus.com

Batavia masih mengandalkan sistem kendali berupa kanal, dan kembali mengalami banjir besar. Curah hujan mencapai 286 mm yang menyebabkan Sungai ciliwung meluap. Banyak wilayah Batavia terendam banjir. Yang terparah adalah Kota Tua dan Harmoni, bahkan gerbang air depan Masjis Istiqlal pun rusak.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Belanda membangun Bendungan Katulampa. Tujuannya untuk memperingatkan pemerintah Hindia Belanda bahwa mereka dapat mengenali dan memprediksi banjir, dan Jakarta kembali mengalami banjir besar.

Setelah 8 jam hujan deras, kawasan Weltevreden (Gambier dan sekitarnya) tergenang air. Curah hujan saat itu adalah 286 mm. Pada tahun 1893, tepatnya tahun 1893, Jakarta kembali dilanda banjir. Saat itu, wilayah Desa / kampung Pluit, Sawah Besar, Kandang Sapi, Pasaruyan, Kebon Jeruk, Kemayoran Wetan dan Sumur Batu terendam banjir hingga ketinggian 1 meter.

3. Banjir pada tahun 1918

Sumber : news.detik.com

Di bawah kekuasaan Hindia Belanda, Batavia kembali mengalami banjir. Bahkan melumpuhkan aktivitas masyarakat pada tahun 1918. Hujan turun terus menerus selama 22 hari berturut-turut, mengakibatkan banjir yang meluas di Batavia.

Selain curah hujan yang tinggi, alasan yang paling jelas adalah dibukanya lahan untuk kebun teh di kawasan Puncak Bogor. Meski tidak disebutkan berapa orang yang tewas dalam insiden tersebut. Namun banjir telah merendam beberapa Lapangan  seperti Banteng, Glodok dan Kemayoran hingga ketinggian 150 cm.
Saat Kali Grogol meluap, banjir di Jakarta masih bernama Batavia. Akibatnya ibuan rumah terendam banjir dan ratusan ribu warga dievakuasi. Mereka mengungsi di banyak tempat, seperti Lapangan Monas, Pasar Baru, dan Waltevreden (Menteng).

Pemerintah Hindia Belanda mulai membangun jalur air dari gerbang Manggarai ke Muara Angke pada tahun 1922. Saat ini jalur air ini disebut Kanal Banjir Barat. Namun, sistem kanal dan saluran air yang dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda tidak dapat sepenuhnya menjamin Jakarta dari banjir.

Banjir Kanal Barat dan Pintu Gerbang Manggarai diperkirakan hanya menggeser wilayah terdampak banjir. Meski saluran air berfungsi, banjir kembali menggenangi Jakarta pada tahun 1932. Banjir bahkan menghanyutkan banyak rumah di sepanjang Jalan Sabang dan Thamrin.

Jan Sopaheluwakan, Ahli Geologi Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, mengatakan banjir Jakarta tidak bisa diatasi melalui sistem kanal. Pasalnya, secara geologi Jakarta adalah cekungan. Sopeheluwakan mengatakan, selain karena proses tektonik, bagian utara Jakarta, yakni Ancol dan Teluk Jakarta, juga mengalami pengangkatan.

Sebab, air yang dikeluarkan dari 13 sungai yang masuk ke Teluk Jakarta tidak bisa mengalir lancar ke laut. Akhirnya air tersebut terperangkap di cekungan besar di Jakarta sehingga menyebabkan banjir.

Tiga belas sungai tersebut merupakan Mookervart, Angke, Grogol, Kali Pesanggrahan, Kali Krukut, Kali Baru/Pasar Minggu, Ciliwung, Baru Timur, Kali Cipinang, Kali Sunter, Kali Buaran, Kali Jatikramat, dan Kali Cakung. “Makanya Teluk Jakarta tidak bisa membentuk delta seperti Delta Mahakam di Kalimantan. Pasir kasar yang terbawa sungai diendapkan di Cekungan Jakarta, sehingga tidak sampai ke laut dan membentuk delta.

4. Banjir pada tahun 1960

Sumber : kaltimkece.id

Pada Februari 1960, banjir besar terjadi di pinggiran kota baru Grogol. Bahkan jika rencana pengendalian banjir telah dikembangkan, banjir masih terlalu dini sebelum desain dapat dilanjutkan. Banjir terjadi di pinggiran Grogol, setinggi lutut dan pinggang. Ini adalah tantangan pertama bagi Gubernur Soekarno, yang menjabat beberapa hari sebelum banjir. Tak hanya itu, ini juga menjadi krisis pertama bagi Presiden Soekarno.

5. Banjir pada tahun 1976

Sumber : fitriwardhono.wordpress.com

Musim hujan yang panjang pada tahun 1976 membuat Jakarta kembali mengalami banjir besar yang berlangsung cukup lama. Banjir membanjiri pemukiman yang tidak pernah tergenang air.

Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Utara dan hampir seluruh wilayah Jakarta terendam air. Dari 1 sampai 26 Januari 1976, diperkirakan 200.000 orang terpaksa mengungsi dan 2 orang meninggal.

Gubernur Ali Sadikin, meski sudah bekerja keras, mengaku sempat terbentur kendala pendanaan dalam mengatasi banjir, padahal sebenarnya sudah ada “Rencana Induk 1973” untuk menangani banjir.

6. Banjir pada tahun 1979

Sumber : aartreya.com

Tiga tahun kemudian, banjir kembali melanda Jakarta. Itu terjadi pada 19-20 Januari 1979. Ribuan rumah tenggelam di kawasan terparah Pondok Pinang, yang terendam hingga 2,5 meter.

Selain itu, 3 orang meninggal dunia, 20 orang dinyatakan hilang, dan 714.861 warga mengungsi. Konon banjir pada masa pemerintahan Gubernur Tjokropranolo terjadi setiap 12 tahun sekali.

7. Banjir pada tahun 1996

Sumber : megapolitan.kompas.com

Pada awal tahun 1996, Jakarta kembali dilanda banjir besar. Hampir seluruh wilayah terendam, dan ibukotanya seperti danau yang digenangi air. Akibat banjir di Sungai ciliwung, puluhan ribu rumah terendam banjir.

Banjir ini disebut banjir terparah sejak tahun 1985. Diukur dari perspektif banjir, korban jiwa, kerusakan dan kerugian. Menurut catatan, sekitar 6 orang telah meninggal karena terseret arus banjir, dan puluhan orang telah dirawat karena diare, kolera, dan gatal-gatal. Banjir ini diperkirakan merusak infrastruktur pemerintah dan di tafsir kerugian hingga jutaan miliar rupiah.

8. Banjir pada tahun 2002

Sumber : megapolitan.kompas.com

Banjir besar di ibu kota disebabkan oleh hujan deras dari 27 Januari hingga 1 Februari 2002. Setelah rumah terendam banjir, ribuan warga terpaksa mengungsi. Seiring jalan yang disepakati terendam, banjir juga melumpuhkan pusat kota. Data BPPD DKI menunjukkan 42 ruas jalan dan 168 ruas jalan terendam banjir. Korban tewas mencapai 25 orang.

9. Banjir pada tahun 2007

Sumber : liputan6.com

Empat belas tahun lalu, tepatnya dari 1 hingga 2 Februari 2007, hujan deras melanda Jakarta dan melumpuhkan sebagian besar ibu kota. Berdasarkan pedoman penanganan banjir yang dikeluarkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta akhir tahun lalu, diketahui bahwa kejadian tersebut merupakan banjir terparah di ibu kota dalam dua dekade terakhir.

Wilayah yang terkena banjir di Jakarta pada awal tahun 2007 seluas 455 kilometer persegi atau sekitar 70% dari total luas ibu kota. Bencana hidrologi juga menimbulkan korban paling banyak, 48 orang tewas dan 276.333 orang harus mengungsi dari rumah-rumah yang terendam banjir.

Akibat banyaknya pengungsi, beberapa ruas tol telah dibuka sebagai tempat evakuasi darurat. Di antara ruas tol yang digunakan, ada ruas Pluit-Tanjung Priok di utara Jakarta yang sudah dipadati pengungsi sejak 3 Februari lalu, sehingga kendaraan bermotor tidak bisa lewat.

Waktu pemulihan yang dibutuhkan sebelum aktivitas warga kembali normal adalah 10 hari. Misalnya, banjir besar di Jakarta pada awal tahun 2020 hanya menutupi 156 kilometer persegi ibu kota. Sebanyak 19 orang tewas dan 36.445 warga harus mengungsi ke tempat aman. Pada saat yang sama, waktu pemulihan yang dibutuhkan adalah empat hari.Curah hujan pada Januari-Februari 2007 sangat deras.

Puncaknya terjadi pada 2 Februari, tercatat rekor tertinggi curah hujan mencapai 339 mm per hari. Berbagai departemen dilaporkan lumpuh. Hampir 1.500 gedung pengajaran tidak dapat digunakan, menyebabkan 40% sekolah dasar tutup hingga banjir mereda. Ratusan anjungan tunai mandiri (ATM) banjir, menyebabkan volume transaksi bank turun 30% dibandingkan hari biasa. Selain itu, jaringan telepon dan internet terganggu. Listrik di banyak daerah banjir juga hilang.

Banjir juga mengakibatkan batalnya 120 perjalanan kereta api. Akibatnya, PT Kereta Api Indonesia merugi Rp 800 juta. Selain mengganggu pengoperasian kereta api, banjir juga menghambat mobilitas pengguna jalan, karena dilaporkan ada 29 jalan yang terputus. Diperkirakan 82.000 meter persegi jalan di ibu kota rusak ringan dan parah akibat banjir. Total biaya restorasi diperkirakan mencapai 12 miliar rupiah.

Menurut laporan, ribuan pengungsi sakit. Hingga akhir Februari 2007, Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat 2.674 pengungsi diare. Sebanyak 1.674 orang menderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dan 9 orang diantaranya meninggal dunia. Leptospirosis juga telah menginfeksi pengungsi. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans yang menyebar melalui air seni hewan seperti anjing dan tikus.

Menurut laporan Alodokter, gejala leptospirosis antara lain mual, muntah, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, dan diare. Hingga akhir Februari 2007, diketahui ada 41 pengungsi yang mengidap penyakit yang juga dikenal dengan penyakit kencing tikus.

Salah satu penyebab utama banjir DKI Jakarta adalah buruknya jaringan drainase. Banyak saluran pembuangan yang sebagian besar merupakan peninggalan zaman Belanda tidak terawat dengan baik dan terhalang oleh sampah masyarakat. Selain itu, jaringan utilitas bawah tanah yang membentang di sepanjang jalan juga menghambat jaringan drainase ibu kota.

10. Banjir pada tahun 2013

Sumber : news.detik.com

Pada 2013, Jakarta dinyatakan darurat setelah hampir seluruh wilayahnya dilanda banjir. Kejadian ini mirip dengan banjir tahun 2007, ketika ribuan orang terpaksa mengungsi karena rumahnya terendam banjir.

Selain curah hujan yang tinggi, sistem drainase yang buruk dan pecahnya beberapa tanggul sungai juga memperparah banjir. Lebih dari 33.500 warga terpaksa mengungsi. Menurut data BPBD DKI Jakarta, sekitar 20 orang meninggal dunia. Kerusakan akibat banjir diperkirakan mencapai 20 triliun rupiah.

11. Banjir pada tahun 2015

Sumber : housingestate.id

Pada 2015, sebanyak 52 lokasi di lima kabupaten di Jakarta terendam banjir. Wilayah terparah adalah Kampung Melayu, Bidara Cina, Kelapa Gading, Mangga Dua dan Grogol. Banjir juga merendam bundaran HI, Jalan Thamrin dan Medan Merdeka Barat. Akibat banjir tersebut, beberapa perjalanan KA KA Commuter Jabodetabek terhalang oleh lubang air di Stasiun Kota di Jakarta, Sudirman dan Kampung Pandan.

Banjir juga menutup delapan koridor Transjakarta. Tak hanya itu, banjir juga memperingati Balaikota Jakarta dan Istana Merdeka. Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai 15 triliun rupiah.

Baca juga : Data Dari BNPB Telah Terjadi 263 Bencana Alam Selama Januari 2021

12. Banjir pada tahun 2016

Sumber : kumparan.com

Ubaidillah berkata, banjir di DKI Jakarta yang terjadi pada Kamis merupakan banjir terbesar sejak tahun 2016. Ini merupakan bencana banjir terbesar sejak musim hujan Januari-Maret lalu. Menurut kategori kedalaman, banjir April mencapai kedalaman 20 sampai 100 cm di Pademangen, dan banjir Maret sampai kedalaman 20 – 1,5 meter di Kawan.

Banjir tahun 2016 merupakan banjir terdalam sejak 2007. Pada 2007, banjir mencapai kedalaman 5 meter. Pada tahun 2013 Jakarta Barat mencapai 100 – 120 cm, kemudian banjir mencapai 60 – 100 cm pada tahun 2015, khususnya di Jakarta Utara.

Pada tanggal 15 November tahun yang sama, kedalaman rata-rata berkisar antara 50 sampai 100 cm, khususnya di Jakarta Timur. Pada tahun 2016, kedalaman banjir di Kawan mencapai 30 hingga 150 cm.

Menurut alumni Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini, menurut pantauan lapangan, sejak Rabu hingga Kamis (20-21 April), terjadi curah hujan lokal di Jakarta dengan intensitas sedang hingga tinggi sehingga mengakibatkan banjir rata-rata di kota tersebut. Namun, pada hari Jumat banjir sudah surut. Ubaidila mengatakan tadi malam (26/4): “Meski banjir sudah surut, namun menyebabkan kemacetan lalu lintas dan merenggut nyawa dua orang.”

Menurut data Ubaidillah, pada April tahun ini banjir merata di banyak ibu kota provinsi, sama seperti sebelum 2015. Wilayah Jakarta bagian utara, timur, dan selatan merupakan wilayah terparah yang diperkirakan masih akan mengalami musim hujan tahun ini.

13. Banjir pada tahun 2020

Sumber : bangka.tribunnews.com

Pada tahun pertama Januari 2020, banjir terjadi di Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi akibat hujan malam. Hujan deras menyebabkan sungai Ciliwung dan Cisadane meluap. Akibat tingginya permukaan air setelah hujan, beberapa pintu air diberi status darurat. BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) menyebutkan ada 60 korban jiwa dan 2 hilang.

Penyebabnya adalah longsor, hipotermia, tenggelam dan sengatan listrik yang kesemuanya disebabkan oleh banjir. Pemerintah tampaknya harus mengesampingkan arogansi politiknya dan mendengarkan riset para ahli agar Jakarta menjadi Jakarta yang lebih bersahabat. Banjir di Jakarta berlangsung terlalu lama.

Related Post