Kisah Calon Pekerja Migran ke Polandia yang Nyaris Jadi Korban Perdagangan Orang


Kisah Calon Pekerja Migran ke Polandia yang Nyaris Jadi Korban Perdagangan Orang – Bekerja di Eropa adalah impian Zulfian. Warga Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, bersemangat untuk bekerja di Polandia. Diketahui upah buruh pabrik di sana kurang lebih Rp 20jt/bulan.

Kisah Calon Pekerja Migran ke Polandia yang Nyaris Jadi Korban Perdagangan Orang

Sumber : nasional.tempo.co

riveraengineering – Selama ini, dia hanya melakukan pekerjaan serabutan di kampung halamannya. Di kutip dari tempo.co , Zulfian mengatakan pada Kamis, 21 Januari 2021: “Siapa yang tidak mau mudah bekerja di pabrik, gajinya juga tinggi .”

Dia tidak sendiri. Di Dusun Lantan, Lombok Tengah, warga Desa Batu Keliang memiliki mimpi yang sama dengan Kuswandi dan Muhammad Arif Rahman. Mereka ingin mencoba peruntungan dengan bekerja di Polandia. Untuk mewujudkan keinginan tersebut, mereka membayar sekitar 55 juta rupiah kepada broker berupa huruf awal S.

Demi mewujudkan mimpinya, Muhammad Arif Rahman (Muhammad Arif Rahman) berjualan truk. Dia masih lajang dan memiliki gelar ilmu komputer dari Universitas Mataram. Nyatanya, dia tidak kekurangan. Namun, godaan untuk bekerja di Polandia dan menghasilkan banyak uang terlalu besar. Arif berkata: “Saya sangat tertarik, karena di Eropa, gajinya sangat tinggi, dan bisa turun salju.”

Di penghujung tahun lalu, impian ketiga orang ini kandas. Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) mengumpulkan penampungan 12 calon pekerja pabrik Polandia di sebuah toko di Bogor pada 18 Desember 2020. Mereka ditampung di posko pemerintah di Jakarta Timur pada Januari 2021 lalu dikembalikan ke daerah masing-masing.

Diduga Calon Buruh migran ke Polandia yang Nyaris Jadi Korban Perdagangan Orang karena agen tidak memiliki Surat Izin Perekrutan Tenaga Kerja Indonesia (SIP2MI). Perusahaan yang mengumpulkannya disebut PT Bumi Mas Citra Mandiri (BMCM). “Setelah diperiksa, PT BMCM tidak memiliki SIP2MI yang menyasar negara tujuan Polandia dan Slovakia,” kata Kepala BP2MI Benny Ramdhani kepada Tempo. Untuk memastikan identitas pekerja ilegal, BP2MI memeriksa sepuluh orang. Ini termasuk calon pekerja, kepala cabang dan direktur PT Bumi Mas Citra Mandiri.

Baca juga : 8 Fakta Ilmiah Tentang Banjir

Zulfian mengaku tidak menyadari bahwa direkrut dengan ilegal. Mereka juga hampir beberapa bulan berada di shelter milik PT itu. Kecurigaan mereka mulai menyerang. Menjelang subuh, petugas PT itu membangunkan Zulfian dan kawan-kawan untuk segera mengemas pakaiannya. Pada pagi itu, mereka dibawa ke sebuah toko, di mana mereka mengambil kursus bahasa Inggris. Zorfan berkata: “Petugas mengira bahwa kontrak untuk rumah sebelumnya telah berakhir.”

Beberapa jam kemudian, petugas PT Bumi Mas Citra Mandiri meminta mereka untuk kembali ke kampung halaman. Calon pekerja hanya bisa diam saja. Uang mereka digunakan untuk membayar keberangkatan dan biaya lain yang diminta oleh agen. Sebelum mencoba berutang untuk membeli tiket pulang, petugas BP2MI menggerebek toko tersebut. Empat calon pekerja melarikan diri dari atap.

Banyak juga bukti yang dikumpulkan BP2MI, seperti tanda terima pengiriman uang dari calon TKI ke PT Bumi Mas Citra Mandiri. Berdasarkan hasil pemeriksaan, BP2MI mencurigai pimpinan cabang PT Bumi Mas Citra Mandiri di Bogor tidak menginformasikan ke kantor pusat tentang perekrutan calon tenaga kerja di Polandia. Pengawas BP2MI yang mengawasi dan mengadu Wisantoro mengatakan, “Ada tanda-tanda kecurangan, direktur cabang menipu presiden.”

Pejabat tersebut menyatakan tidak menemukan tanda-tanda tindak pidana perdagangan manusia. Wisantoro mengatakan hal ini terlihat dari calon tenaga kerja yang belum memiliki visa dan tiket pesawat. Dia berkata: “Tidak ada bukti yang bisa diproses di luar negeri.”

Kalaupun ada tanda-tanda tindak pidana, kasus tersebut tidak masuk ranah hukum. Visantoro mengatakan, PT Bumi Mas Citra Mandiri belum bersedia melaporkan pimpinannya ke polisi di kantor pusat PT Bumi Mas Citra Mandiri. Perusahaan juga berjanji akan mengembalikan uang yang dikumpulkan dari calon pekerja.

Karena itu, mereka tidak mengadu ke polisi. BP2MI telah mencoba untuk melimpahkan kasus tersebut ke polisi, namun kasus tersebut tidak dapat dilanjutkan. Wisantoro mengatakan: “Perkara ini menjadi perkara perdata karena ada pengembalian dana.” Namun, Pimpinan PT Bumi Mas Citra Mandiri wajib melaporkannya sampai pengembalian dana diberikan kepada calon TKI.

Direktur Advokasi Buruh Migran Indonesia Roma Hidayat (Roma Hidayat) mengatakan dalam kasus calon TKI di Polandia, pelaku dapat dituntut berdasarkan “Klausul TIP”. Ia mengatakan, ketiga unsur TPPO sudah terealisasi. Artinya, proses rekrutmen, sarana dan tujuan. Roma berkata: “TIP sangat mungkin terjadi karena jelas bahwa mereka akan pergi secara ilegal.”

Dia mengatakan belum ada yang memastikan status izin tersebut dan tujuan Zulfian Cs akan dikunjungi di Polandia. Pasalnya, saat merekrut pegawai baru, mereka tidak mendaftar di agen resmi di Bogor. Ia mengatakan: “Selain itu, diduga proses rekrutmen dilakukan secara rahasia.” Jika prosedurnya legal, rekrutmen akan disertai dengan kegiatan sosial yang jelas dan membutuhkan pendampingan dari dinas tenaga kerja setempat.

Menurut investigasi tim ADBMI, calon TKI tidak mendapatkan pelatihan khusus, seperti bahasa asing, pengetahuan profesional di bidang pekerjaan, dan pengetahuan tentang budaya dan hukum Polandia. Identitas dan status calon pemberi kerja juga tidak jelas. Roma berkata: “Ini berarti bahwa jika mereka memenuhi syarat untuk kualifikasi Polandia, maka ada peluang besar untuk mendapatkan TIP.”

Saat ini bekerja di Polandia di Nusa Tenggara Barat memang sedang tren. BP2MI Mataram mencontohkan, dalam kurun waktu 2018-2020, sebanyak 31 warga berangkat ke Polandia. Dua diantaranya adalah wanita. Mereka biasanya bekerja sebagai operator produksi, teknisi, terapis spa, dan pengurus rumah tangga. “Melalui media sosial, banyak orang yang mengaku telah mendaftar untuk bekerja di Polandia,” kata Fauzan, salah satu staf ADBMI.

Nurhayati, Wakil Direktur PT Bumi Mas Citra Mandiri Cabang Bogor, mengaku pihaknya sudah merekrut calon TKI tanpa diberitahukan ke markas. Pada saat itu, mereka berurusan dengan banyak lisensi. Ketika Polandia melakukan tindakan penguncian untuk mencegah penyebaran Covid-19, situasinya menjadi semakin sulit. Ia mengatakan kepada Tempo: “Kami telah meminta maaf kepada kepala markas.”

Merekrut pekerja ke Polandia seringkali menjadi masalah. BP2MI Crisis Center di situsnya menerima 29 pengaduan selama 2017-2020. Jenis pengaduan tersebut antara lain: kegagalan penempatan dan pengunduran diri, penipuan, hutang antara calon pekerja dengan perekrut, memutuskan hubungan kerja, dan pekerjaan yang tidak sesuai dengan perjanjian kerja. Wisantoro, Kepala Pengawasan dan Pengaduan BP2MI, mengatakan sebagian besar kasus telah diselesaikan oleh BP2MI dan “belum ada yang mencapai jalur hukum.”

Pada saat yang sama, situs BP2MI hanya mencantumkan lowongan pekerjaan Polandia yang hanya berlaku untuk tukang las dan terapis spa. Situs web tersebut juga menyebutkan bahwa biaya hidup di Polandia juga tinggi. Angka ini lebih tinggi 8,3% dari biaya di Indonesia. Sewa rumah 72,2% lebih tinggi.

Baca juga : 5 Fakta 2 Harimau Lepas dari Sinka Zoo Singkawang

Meski biaya hidup lebih tinggi, keinginannya untuk berpenghasilan lebih tinggi membuat Zolfinn memilih menghabiskan lebih banyak uang untuk pergi ke Polandia. Ia mengaku telah menghabiskan dana sebesar 13 juta rupiah di tempat penampungan tersebut. Kini, dia berharap semua uang itu bisa dikembalikan. Dia mendapat uang dari orang tua dan mertuanya. Namun, PT Bumi Mas Citra Mandiri telah mengembalikan Rp 8 juta.

PT Bumi Mas Citra Mandiri mengatakan sedang memproses pengembalian uang untuk calon pekerja migran yang telah pensiun ke Polandia. Nurhayati, vice president PT Bumi Mas Citra Mandiri cabang Bogor, mengatakan: “Namun, setelah semua izin disetujui, beberapa orang masih bersedia terus bekerja di Polandia.”

Related Post